Senin, 28 Januari 2013

Perubahan



“Teruslah berusaha tanpa henti, hingga Tuhan berkata: sudah waktunya pulang”
                Pagi yang sangat dingin, aku masih berbaring diatas ranjangku. Alarm pun berbunyi, aku dengan malasnya berdiri dan meninggalkan kamarku. Hawa dingin menusukku hingga ke tulang. Aku benar-benar malas hari ini. Malas bangun, malas mandi, malas sekolah, malas bekerja, dan segalanya. Aku memang benci mandi di pagi hari, dinginnya air membuatku tersiksa.
                Aku Edric, aku seorang mahasiswa psikologi di Universitas Airlangga. Sudah 6 tahun aku sekolah tapi tak kunjung lulus. Aku berasal dari keluarga kalangan atas. Ibuku seorang dosen, dan ayahku pengusaha sukses. Kenyamanan hidupku saat ini membuatku malas untuk bermimpi.
                Ya, hingga saat ini aku tak memiliki mimpi. Anak kecil biasanya bilang ingin jadi Power Ranger, Ultraman, Robocop, dan semacamnya, tetapi tidak denganku, tak ada yang ingin kucapai dalam hidupku. Apa yang kurang dariku? Kekayaan, kemewahan, orangtua yang baik, pacar cantik, barang-barang mahal, semua sudah kumiliki. Kecuali ‘Mimpi’.
                Rena, pacarku. Dia cantik, juga baik. Rena dulu teman kuliahku, hanya saja dia lulus lebih awal daripada aku. Sekarang dia bekerja di sebuah perusahaan swasta, gajinya juga cukup tinggi. Rena orang yang ambisius, apa yang dia inginkan pasti akan dia kejar sampai ia mendapatkannya. Berbanding terbalik dengan sifatku. Terkadang temanku menyuruhku untuk jadi seperti Rena, menjadi seorang pekerja keras. Tapi aku tidak mau dengan alasan: “Perbedaan sifat sepasang kekasih itu saling melengkapi”. Hanya alasan, yang ingin kukatakan sebenarnya adalah “malas”.
                Aku dan Rena pasangan yang cupuk serasi. Kami sama-sama berasal dari kalangan atas. Setiap akhir pekan aku selalu membelanjakannya banyak barang ber-merk yang mahal. Kami juga sering makan malam di restoran mewah.
                Hari ini ulang tahun Rena, aku mengajaknya makan malam di restoran China yang cukup terkenal dan mahal harganya. Rena seorang pecinta musik, jadi aku membelikannya sebuah miniatur gitar. Saat itu juga Rena berkata, ‘Dric, sudah 4 tahun kita pacaran, tapi kenapa hanya begini-begini saja?’
                ‘Ya, lalu kau ingin yang seperti apa? Akan aku kabulkan’ balasku.
                ‘Sebenarnya, apa hubungan kita ini memiliki tujuan?’ kata Rena.
                ‘Ng? Bicara apa kamu? Tujuan apa? Bukankah kita sudah mempunyai semua yang kita inginkan?’
                ‘Berhentilah bicara seperti anak TK yang suka memamerkan segala yang dia punya!’ Rena agak kesal dengan sikapku.
                ‘Kalau begitu, kapan kita menikah?’ tanyaku.
                ‘Eh?’
                ‘Menikah adalah tujuan dari sebuah hubungan kan?’
                ‘Aku meragukanmu.’
                ‘Kenapa? Umur kita sudah cukup kan? Kau 26 dan aku 28,’ tanyaku.
                ‘Bagaimana kau bisa membiayai hidupku? Kau kan pengangguran,’ kata Rena.
                ‘Hei, jangan mendoakan yang buruk,’
                ‘Edric! Kamu sudah dewasa! Kamu harus bekerja dan serius menjalani hidup!’ bentak Rena.
                ‘...’
                ‘Baiklah, kita akan menikah, tapi aku punya persyaratan,’ kata Rena.
                ‘Apa itu?’
                ‘Aku mau semua peralatan pernikahan, mulai dari undangan hingga perayaan kau bayar..’
                Rena belum selesai bicara tapi aku menyelanya, ‘Gampang, semua aku yang bayar, mana ada pernikahan mempelai wanitanya yang membiayai pernikahannya. Haha..’
                ‘Edric, aku belum selesai bicara, aku mau kamu bayari dengan hasil usahamu sendiri, bukan uang dari orangtuamu,’ lanjut Rena.
                ‘Hah?!’ aku kaget dengan kata-kata yang keluar dari mulut kekasihku ini. Bagaimana aku bisa menghasilkan banyak uang sementara aku ini seorang pengangguran?
                ‘Tapi Ren, pekerjaan apa yang harus aku lakukan untuk menghasilkan uang sebanyak itu? Kau tahu sendirikan, aku tidak punya kemampuan apapun, bahkan kuliahku 6 tahun belum juga lulus,’ kataku.
                ‘Kamu pernah dengar tentang Gua Plato?’ tanya Rena.
                Aku menggeleng.
                ‘Ada beberapa orang tinggal di sebuah gua, mereka merasa nyaman di dalam gua tersebut. Apa yang mereka inginkan sudah tersedia di dalam gua. Hingga ada satu orang mencoba keluar dari gua tersebut. Di luar dia melihat hewan-hewan, tumbuhan, gunung, air terjun, dan keindahan-keindahan lain yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Lalu ia kembali ke dalam gua dengan tujuan memberitahu teman-temannya. Tetapi, ketika ia menceritakan semua yang ia lihat di luar gua, tak seorangpun dari penghuni gua percaya padanya. Mereka menganggapnya pembohong lalu membunuhnya.’
                ‘Lalu?’ tanyaku.
                ‘Kamu seperti penghuni gua, hidupmu terlalu nyaman, kekayaan, kemewahan, dan sebangsanya. Lihatlah kamu sekarang, kamu nggak punya kemampuan apa-apa. Itu karena kamu nggak mau mencoba hal-hal baru dan mencari jati dirimu. Setiap manusia diciptakan memiliki bakat mereka sendiri-sendiri, kamu hanya perlu mencari apa bakatmu,’ jelas Rena.
                ‘Aku seperti penghuni gua? Tapi aku tidak membunuh siapapun,’
                ‘Guyonmu gak lucu,’ balas Rena. ‘Udah malem banget nih, aku pulang dulu ya, besok aku kerja. Semangat ya Beibz, aku tunggu lamaranmu,’ kata Rena lalu meninggalkanku.
                ‘Dah Ren, happy birthday,’ balasku.
                ‘Oh iya, satu lagi,’ Rena berbalik. ‘Kamu nggak boleh kerja di perusahaan ayahmu.’
                ‘Haa..? kenapa?’ tanyaku.
                ‘Keenakan donk, nanti mentang-mentang kamu anaknya bos kerjamu jadi malas-malasan dan makan gaji buta,’
                ‘Haaahh...’
                ‘Kalau kamu butuh bantuanku telpon aja, aku juga lulusan psikologi,’
                ‘hmh..’ balasku lalu beranjak dari tempat duduk dan bersiap pulang.
                ‘Kamu juga mau pulang?’ tanya Rena.
                ‘Ya iyalah, kalau kamu mau pulang aku jalan sama siapa? Ntar kalau aku jalan sama cewek lain kamunya yang cemburu,’ kataku.
                Rena tertawa kecil.
                ‘Aku anter pulang deh,’ tawarku pada Rena.
                ‘Ok! Yang terakhir sebelum kita berpisah.’
                ‘Berpisah?’
                ‘Kalau kamu cari kerja kita gak punya waktu ketemuan untuk sementara.’
                Aku tersenyum lalu membukakan pintu untuk Rena. Aku tidak tahu apa tujuan Rena menyuruhku bekerja. Sebenarnya aku bisa saja mencari wanita lain yang membiarkanku jadi pengangguran kaya. Tapi, aku terlanjur mencintai Rena. Yaa.. mau bagaimana lagi?
                Keesokan harinya, aku mulai kesana kemari mencari pekerjaan. Tapi semua tempat yang kudatangi menolakku hanya karena satu alasan: belum lulus. Aku telah mengunjungi banyak tempat-tempat besar. Mungkin aku akan diterima jika melamar pekerjaan di sebuah toko kecil. Tapi pesta pernikahan membutuhkan banyak biaya, aku harus bisa mengumpulkan banyak uang dalam waktu dekat. Oh Rena... apakah hanya ini satu-satunya jalanuntuk tetap bersamamu.
                Aku berhenti di depan sebuah super market. Aku berjalan masuk dan berharap akan diterima. Aku masuk dan bertemu dengan atasan. Dan aku DITERIMA! Sebagai cleaning service. Walaupun hanya jadi cleaning service bayarannya cukup besar, lebih besar dari penjaga toko kecil. Setelah menerimaku bos bilang, jika kerjaku bagus aku bisa jadi penjaga kasir. Penjaga kasir bayarannya memang lebih besar.
                Sebulan aku bekerja disana dan aku belum naik pangkat. Ternyata bekerja tak semudah menghembuskan nafas. Yang kubayangkan adalah setelah aku bekerja, hanya dengan berkedip saja tumpukan uang sudah ada di depanku. Ternyata tidak semudah itu.
                Beberapa hari yang lalu ada pegawai baru masuk. Baru 2 Minggu dia masuk, dia sudah dipromosikan. Dia memang orang yang berbakat. Aku merasa agak minder dan menelpon Rena.
                ‘Ren, di super market ada pegawai baru. Baru 2 Minggu dia kerja, dia sudah dipromosikan. Aku agak kepikiran nih,’ keluhku pada Rena.
                ‘Udah gak usah dipikirin, yang penting kerja aja yang rajin,’ balas Rena.
                ‘Aku sudah melakukan itu, tapi tetap saja kepikiran.’
                ‘Pamerin aja harta kekayaan kamu. Tunjukkan padanya kalau kamu nggak rendahan,’ kata Rena.
                ‘Nanti aku dikira sombong.’
                ‘Sombong lebih baik daripada minder.’
                ‘...’
                ‘Kenapa?’ tanya Rena.
                ‘Enggak kok,’ balasku.
                ‘Kamu tau gak? Batu kalau ditetesi air, lama kelamaan akan berlubang.’
                ‘Lalu?’
                ‘Itu membuktikan bahwa yang berhasil bukanlah yang tajam, tapi yang bersungguh-sungguh,’ jawab Rena. ‘Kalau orang Arab bilang Man jadda, wa jadda.’
                ‘Siapa yang bersungguh-sungguh, dialah yang mendapatkan,’ balasku.
                ‘Nah! Tau kan? Udah, kerja lagi sana!’
                Nasehat dari Rena benar-benar membantuku. Dia mengatakannya dengan lancar seakan tahu apa yang ada dipikiranku. Berkat Rena aku semakin giat bekerja. Aku terus menunjukkan kalau aku seorang pekerja keras.
                3 bulan, akhirnya bos mempromosikanku. Sekarang aku seorang penjaga kasir, penghasianku semakin meningkat. Aku juga mengerjakan kembali skripsiku. Aku minta bantuan dosen untuk membantuku mengerjakan skripsi. Aku ingin segera lulus agar aku dapat ijazah. Aku memulainya bulan lalu dan selesai 2 bulan setelahnya. AKU LULUS!
                6 bulan aku bekerja, bos lagi-lagi mempromosikanku. Kali ini aku naik pangkat menjadi manager. Semua berkat kerja kerasku dan juga ijazahku. Benar kata Rena, yang berhasil bukanlah yang tajam, tapi yang bersungguh-sungguh.
                Empat bulan setelah itu. Hari ini adalah 5 tahun kami pacaran. Aku mengajak Rena makan malam di restoran yang sama seperti saat Rena ulang tahun. Aku pun memulai pembicaraan.
                ‘Ren,’ kataku.
                ‘Apa?’ tanya Rena.
                ‘Enaknya hari ini aku jadi melamarmu atau tidak ya?’
                ‘Eh?’
                ‘Mari kita tentukan dengan batu-gunting-kertas, jika aku kalah aku akan melamarmu, jika aku menang aku tidak jadi melamarmu,’ ajakku.
                ‘Jadi kau menganggap semua ini hanya permainan?’
                ‘Sudahlah, lakukan saja,’
                Rena diam,dia terlihat kesal. Aku mulai menghitung 1 sampai 3. Aku menjatuhkan tanganku pada hitungan ke-2 dan aku membuka tanganku (kertas). Pada akhirnya tetap Rena yang harus memilih.
                Rena menjatuhkan tangannya yang mengepal. Batu?! Apakah aku ditolak?! Beberapa detik kemudian dia membuka jari telunjuk dan jari tengahnya. GUNTING! Yeah! Aku diterima!
                ‘Dasar!’ kata Rena.
                Aku berlutut dan mengulurkan tanganku, diatasnya ada kotak kecil berisi cincin emas. Rena mengambilnya dan tersenyum kepadaku. Aku pun memeluk calon istriku. Dan ketika kulepaskan, perhatian seluruh pengunjung restoran tertuju pada kami.
                ‘Apa kamu malu?’ tanyaku pada Rena.
                ‘Tidak, aku tidak pernah merasa malu bersanding denganmu,’ jawab Rena. Aku merasa sangat senang.
                ‘Selamat ya,’ kata seorang pengunjung.
                ‘Wah, selamat ya,’
                ‘Selamat-selamat. Belum pernah aku lihat orang melamar dengan cara seperti ini,’ pengunjung lain ikut memberi selamat.
                Restoran pun jadi gaduh gara-gara kami berdua. Walau begitu aku merasa senang bisa memberikan apa yang Rena inginkan.
                Malam semakin larut, aku mengajak Rena pulang.
                ‘Mau kuantar?’ tawarku pada Rena.
                ‘Ok! Yang pertama sejak perubahan di hidupmu,’ Rena menerima tawaranku.
                Kini aku tahu bahwa tujuan Rena adalah untuk memberikan perubahan dalam hidupku. Aku jadi sadar seberapa perhatian Rena padaku. Sejak aku menikahi Rena hari-hari terasa berubah. Dunia terasa semakin indah untuk dijelajahi.
                Tidak lama setelah aku menikah, aku keluar dari pekerjaan dan membuka usaha sendiri. Kini hidupku memiliki tujuan yaitu membahagiakan keluargaku dan membanggakan keluargaku. Aku akan terus berusaha dan bekerja hingga Tuhan berkata “Sudah waktunya pulang”.

Senin, 21 Januari 2013

Diary Hilman



SMAN 1, disanalah aku sekarang. Berjuang melawan ratusan siswa untuk jadi yang terbaik. Aku bukanlah siswa jenius yang bisa melakukan semua pekerjaan dengan mudahnya. Tak seperti sihir, yang dapat menjadikan segalanya secara instant. Hidupku disini penuh dengan perjuangan.      
            Hilman itu namaku, kujalani hidup dengan sangat terpaksa. Sekejap terasa kehidupan begitu membosankan. Tak ada hal luar biasa dalam hidupku. Aku hanyalah manusia yang hidup dan mati dengan biasa-biasa saja. Nilai ujianku buruk, aku juga tak memiliki banyak teman, aku pun tak memiliki bakat yang berarti. Hanya diary ini yang menemaniku.
            Belajar, belajar, belajar, dan belajar. Membosankan bukan? Sekalipun aku belajar keras aku tak bisa mendapat nilai yang baik. Penerimaan rapor tengah semester 1, kali ini pun aku mendapat peringkat 36 dari 37 siswa. Betapa bodohnya aku, bahkan temanku yang hampir sebulan tidak masuk karena sakit pun berada diatasku. Tapi aku tak begitu peduli, yang aku inginkan hanya segera lulus, setelah lulus aku akan menghadapi kehidupan sebenarnya, itu terasa begitu menakutkan, tapi aku harus menjalaninya terlebih dahulu sebelum mati. Ohh, aku ingin segera mengakhiri kehidupan ini.
            Semua itu berlangsung hingga aku bertemu dengan seseorang. Dia Top, dia bukan siswa hebat, dia tidak juga pintar, bahkan aku yang bodoh ini lebih pintar darinya. Hanya saja dia dapat membuat orang lain menjadi semakin bersemangat dalam menjalani hari. Dalam sekejap dia menjadi teman baikku.
            Dia telah banyak merubahku. Aku memang masih tidak pernah belajar di rumah, tapi aku selalu mendengarkan penjelasan guru. Itu juga berkat dia, dia pernah bilang padaku :
‘Kau orang yang cerdas! Kau bahkan tak perlu belajar semalam suntuk untuk dapat mengerjakan soal ujian, hanya dengan mendengarkan saja kau bisa memahami semua yang dikatakan pak guru,’ begitu kata Top.
            Top memberikanku kepercayaan diri. Sejak itu prestasiku meningkat, walau tak menjadi yang pertama aku cukup puas dengan hasil kerjaku. Top juga terus belajar, tapi dia tetap tak bisa melampauiku, meski begitu dia tak menyimpan dendam. Dia juga pernah bilang bahwa dia tak memiliki kamus dengan kosakata yang lengkap. Top kekurangan satu kata dalam kamusnya, dan dia tak pernah berharap untuk mendapatkan kata itu. Kata itu adalah “Menyerah
            ‘Jangan pernah mengatakan kata itu di depanku, itu kata yang tabu bagiku!’ begitu kata Top.
            Mendekati ujian akhir semester. Aku masih santai dengan film dan gameku. Sementara Top belajar keras, ia ingin masuk 3 besar semester ini, mungkinkah jika dari 23? Aku tak tahu, tapi dia sangat yakin jika itu mungkin.
            ‘Jika bersama Tuhan, laut tanpa garam pun bisa jadi mungkin,’ kata Top.
            ‘Bagaimana jika itu hanya sekedar keberuntungan?’ tanyaku.
            ‘Keberuntungan bisa terjadi karena Tuhan yang menjadikannya,’ balas Top.
            Top sangat mengandalkan Tuhan. Tapi tidak berarti dia santai dan bermalas-malasan. Top tetap belajar dengan giat.
            Ujian pun semakin dekat. Ini 2 hari sebelum ujian berlagsung. Seluruh siswa diliburkan sebelum menghadapi ulangan. Tujuannya adalah agar siswa tidak tegang dan kelelahan sebelum ujian.
            Selama 2 hari libur aku datang ke rumah Top untuk belajar bersamanya. Disana aku dapat melihat betapa seriusnya Top dalam persiapan menghadapi ujian. Ketika kutanyakan padanya.
            ‘Ujian semester satu itu yang paling menentukan, karena nilai yang diperoleh masih murni,’ begitu kata Top.
            Aku bisa mengerti siswa rajin seperti dia.
            Saat ujian pun tiba, Top mengerjakan soalnya dengan serius. Sedangkan aku? Aku biasa-biasa saja. Top melirik kearahku dan tersenyum. Kupikir dia akan menyontek, ya, mencontek sudah menjadi hal yang biasa dikalangan siswa. Tapi tidak dengan Top, dia mengerjakan soalnya dengan jujur. Dia melirik kearahku untuk memberikan semangat. Yah, aku memang malas mengerjakan soal, semua orang pun akan tahu hal itu ketika melihat wajah malasku.
            Seminggu telah berlalu. Aku melihat papan pengumuman nilai. Aku mulai mencari namaku disekitar angka 11 sampai 20an. Aku tidak menemukannya,aku pun pindah ke atas. Dan sangat mengejutkan, aku nomor 1! Tak kusangka, aku peringkat 1 dengan nilai sempurna.
            ‘Hei! Seingatku dulu kau ranking 36, bagaimana bisa kau jadi ranking 1? Bagaimana bisa nilaimu tanpa celah sama sekali hah?!’ tanya Boi, teman sekelasku.
            Ketika kulihat lagi papan pengumuman nama Top tepat berada di bawahku. Aku pun segera mencari Top untuk mengucapkan selamat. Aku pergi ke kelas dan aku menemukannya.
            ‘Hai Top! Selamat, kau akhirnya masuk 3 besar!’ kataku.
            Tapi wajah Top terlihat tidak senang. Apa karena aku berada di atasnya?
            ‘Kau!’ Top terlihat marah padaku. ‘Bagaimana bisa kau mengkhianatiku?!’
            ‘Eh?’ aku memasang wajah bingung. Tidak! Aku memang sedang bingung dengan sikap Top.
            ‘Kau mencontek kan?!’ bentak Top.
            ‘...’
            ‘Itu bukan hasil kerjamu bukan?! Lantas apa gunanya selama ini kita belajar bersama? Apa gunanya kau jauh-jauh datang ke rumahku jika akhirnya akan begini?!’ lanjut Top.
            ‘I.. itu, aku...’ aku merasa susah berbicara.
            ‘Kau tahu kan jika mencontek itu curang?! Kau tahu kan, kalau itu perbuatan buruk?!’ Top semakin marah karena aku memasang wajah bodohi. Kelihatannya dia merasa dibodohi olehku.
            ‘...’ aku diam.
            ‘Huh! Bahkan gambar pada cermin yang berdiri di depanmu pun tahu kalau itu salah!’ Top mengatakannya lalu meninggalkanku.
            Gambar pada cermin yang tepat berada di depanku??? Gambar apa yang terlihat jika aku menaruh cermin di depanku??? ITU AKU!!! Ya, aku memang seharusnya tahu kalau mencontek itu buruk. Tapi mengapa aku melakukannya? Betapa bodohnya aku, melakukan sesuatu yang aku sendiri tahu kalau itu tak boleh dilakukan. Dan aku bahkan tak mempunyai kekuatan untuk mengakui perbuatanku di depan teman baikku sendiri. Betapa lemahnya aku?!
           Akhir-akhir ini aku menjauhi Top. Aku benar-benar malu padanya. Aku memang menang darinya. Ya tentu saja, aku ranking 1 sementara dia ranking 2. Tapi soal kepercayaan diri aku jelas kalah, aku tak percaya pada diriku sehingga aku melirik jawaban temanku. Aku merasa begitu licik, dan aku tahu bahwa Top terlalu baik untuk orang licik sepertiku.
            Selama satu semester aku menghindar dari Top. Aku mulai tak nyaman dengan kondisi ini. Aku pun memutuskan untuk memperbaiki hubungan dan mendapatkan kembali kepercayaan Top padaku. Tapi kurasa tidak mungkin mengembalikan kepercayaan seseorang hanya dengan berbicara dengannya. Aku perlu memberikan BUKTI yang nyata. Aku harus membuktikan pada Top bahwa aku juga bisa mendapat nilai bagus tanpa melirik jawaban temanku. Tekadku sudah bulat untuk tidak mencontek.
            Ujian kenaikan kelas pun tiba. Aku terus belajar dengan giat sepanjang malam. Aku merasa tidak nyaman dengan kesunyian saat aku belajar. Aku pun memasang headphone di telingaku. Memutar lagu-lagu rock yang sekiranya dapat membuatku semakin bersemangat.
            Saat ujian berlangsung aku dapat menjawab seluruh pertanyaan dengan mudah. Bahkan aku bisa memastikan nilaiku akan sempurna tanpa celah. Tapi apapun itu hasilnya aku akan merasa puas karena itu hasil kerjaku sendiri.
            Aku dengan sabar menunggu hasil ujian. Hari demi hari kulalui dengan senyuman. Aku membayangkan persahabatanku dengan Top kembali seperti dulu. Satu yang paling aku ingat adalah ketika aku mengajaknya nonton bola sampai larut malam, ia sangat gelisah dan selalu memandangi jam. Top orangnya agak ‘purba’, dia sangat disiplin dan taat peraturan, dan dia membuat peraturan untuk tidur sebelum jam 10 malam. Benar-benar berbeda dari siswa jaman sekarang.
            Hasil ujian pun telah keluar. Top diperingkat 1! Dan aku.... lama aku mencari. Lalu Boi menepuk pundakku dari belakang lalu ia berkata.
            ‘Hebat kamu! Nilaimu lagi-lagi sempurna tanpa celah! Bagaimana bisa?’ puji Boi.
            Hah?! Sempurna? Tanpa celah? Bagaimana bisa? Bukankah Top yang diperingkat 1? Seseorang menepuk bahuku dari belakang. Itu Top!!
            ‘Selamat, kali ini kau benar-benar nomor satu,’ kata Top sambil tersenyum.
            ‘Hah?’ aku masih bingung, lalu aku membalikkan badan dan melihat papan pengumuman sekali lagi. Aku menyipitkan mataku.
            WHOA..??!! Aku nomor 1??!! Sepertinya papan pengumuman terlalu tinggi sehingga aku hanya bisa melihat nomor 2 kebawah. Dan tanpa kusadari namaku ada di urutan paling atas.
            Aku merasa sangat senang karena bisa berada di urutan teratas tanpa mencontek. Dan aku lebih bahagia lagi karena Top sudah kembali tersenyum kepadaku.
            ‘Baguslah jika kau sudah mengerti bahwa yang benar tidak selalu baik,’ kata Top.
            Kini aku sudah merasakan bagaimana rasanya kehilangan kepercayaan dari seorang teman. Sangat tidak nyaman. Dan untungnya aku memiliki kamus yang sama tidak lengkapnya dengan milik Top. Sehingga aku tak pernah menyerah untuk mendapatkan apa yang aku inginkan.
            Aku kembali berjalan pulang bersama Top. Aku melihat kearah langit biru, aku tahu Tuhan berada disana. Terima kasih Tuhan, telah memberiku kesempatan sekali lagi untuk mendapat kepercayaan dari seorang teman. Fin.

Selasa, 30 Oktober 2012

Last Halloween


Karya : Jauza’ Nur R.
Setting : Jembatan
Kata kunci : Malam, sekop, bulu kuduk, darah, jejak, pohon beringin

            Akhir bulan Oktober, entah mengapa angin terasa begitu dingin dimalam halloween. Neuro, seorang mahasiswa yang mendapat beasiswa bersekolah di London. Neuro berdiri di pinggir jembatan.
 Mendadak hujan, Neuro tidak membawa jas hujan masih berdiri di pinggir jembatan. Pandangan Neuro teralihkan pada seseorang berjaket mengenakan penutup kepalanya. Pria itu membawa sekop ditangan kirinya. Neuro yang merasa aneh meninggalkan pria itu.
Beberapa langkah Neuro berjalan, ia mendapat telepon dan berhenti sebentar.
“ Halo,” sapa sang penelpon. Suaranya agak serak.
“ Ya, ini siapa?” tanya Neuro.
“ krsk, krsk...” hanya terdengar suara aneh.
Neuro menutup telponnya, ia berfikir mungkin ponselnya rusak terkena air hujan. Tiba-tiba Neuro merasa aneh. Ia merasakan seperti nafas berat di belakang punggungnya. Bulu kuduk  Neuro berdiri, perlahan ia melihat ke belakang. Tidak ada apa-apa, hanya ada pria aneh tadi, ia tidak beranjak dari tempatnya.
Neuro berjalan lagi. Terasa ada yang menepuk pundaknya dari belakang, tangan itu mencengkram pundak Neuro. Neuropun menengok lagi ke belakang. Pria itu, tidak beranjak dari tempatnya, tapi tangannya memanjang mencengkram bahu Neuro. Neuro terkejut melihatnya hingga ia tak sanggup mengatakan apapun. Pria itu menatap Neuro tajam, matanya yang merah melotot hingga mengeluarkan darah. Semakin erat cengkraman dibahu Neuro.
“ Arrrggghhhh...!!!! tolong!!!!” jerit Neuro.
Tak seorangpun menanggapinya, seakan hanya Neuro dan pria itu yang dapat melihat kejadian yang dialami Neuro. Pria itu akhirnya melepaskan bahu Neuro. Neuro segera lari, tapi pria itu berlari lebih cepat mengikuti jejak Neuro.
Neuro yang sudah lelah berlari akhirnya tergelincir dan jatuh pingsan. Ketika ia terbangun, dihadapannya ada sebuah pohon beringin tua. Terlihat sosok pria yang tadi mengejarnya berada di atas pohon.
“ Kau berada di alamku, kau harus mematuhi peraturanku,” ujar pria itu.
“ Bagaimana bisa? Mimpikah aku? Siapa kau sebenarnya,” kata Neuro masih tidak percaya akan semua yang telah dialaminya.
“ Ya, kau bermimpi, dan tidak akan pernah bangun lagi,” kata pria itu.
“ A, apa meksudmu?” tanya Neuro.
“ Kau sudah berada di alamku, maka kau tak akan pernah kembali lagi ke alammu, kini kau menjadi milikku, kau harus melakukan apa yang kuperintahkan,” jawab pria itu.
Neuro terdiam, memejamkan mata, meyakinkan dirinya bahwa ini hanya mimpi buruknya saja. Ketika ia membuka mata, wajah pria itu berada tepat di depan wajah Neuro. Neuro menjerit dan melangkah mundur.
Wajahnya benar-benar hancur, matanya merah berdarah. Banyak bekas jahitan di wajahnya, bahkan banyak sobekan yang belum dijahit.
“ Apa tujuanmu sebenarnya?” tanya Neuro.
“ Balas dendam, merebut kebahagiaan semua orang, menyiksa mereka, dan akhirnya mereka akan mati,” jawab pria itu.
“ Ke, kenapa? Apa salah kami?” tanya Neuro semakin takut.
“ Aku melakukan itu pada kalian, sama halnya seperti kalian dulu memperlakukan aku,” jawab pria itu.
Sebelum Neuro bertanya lagi, pria itu secepat kilat berpindah ke belakang Neuro dan memukul tengkuknya. Neuro kehilangan keseimbangan dan tumbang.
Pria itu membawa Neuro ke tempat eksekusinya. Neuro tersadar, ia melihat sekelilingnya. Begitu banyak makhluk mengerikan seperti pria tadi. Mereka bersorak ramai, sepertinya mereka tak sabar melihat kematian Neuro dan menjadi salah satu dari mereka.
Hujan semakin deras, petir menyambar tiada henti. Seorang pria berjaket membawa sekop tadi berdiri di hadapannya. Menaikkan tangannya sambil berseru “ Kau akan lenyap, tak seorangpun akan mengingat dirimu. Malam ini, tak ada kata trick or treats untukmu!”

--End--

Batas


Karya : Jauza’ Nur R.
Setting : Sekolah
Kata kunci : Putih, tangga, malam, purnama, bulu kuduk

Di sebuah SMA terdapat seorang murid bernama Jake yang dikenal sebagai preman paling ditakuti. Hebatnya, ia bisa beraksi tanpa ketahuan guru. Bahkan Jake pernah membunuh pacarnya sendiri karena tak mau menuruti kemauannya.
            “ Hei! Belikan aku rokok!” perintah Jake pada Kevin.
            “ Ta, tapi, bukankah anak SMA tidak oleh merokok,” bantah Kevin.
            “ Diam kau!” ancam Jake sambil menodongkan cutter.
Kevin yang tidak berani melawan akhirnya menurut. Belum lama Kevin sudah kembali membawakan sebungkus rokok. Tanpa berterimakasih Jake pergi ke atap sekolah.
Di atap sekolah Jake dapat merokok tanpa ketahuan guru. Lalu ia menelpon teman dekatnya untuk menemaninya, tapi dia menolak. Jake terlihat kesal sehingga membanting ponselnya.
Terdengar langkah kaki mendekat dari belakang. Jake yang mengira itu temannya langsung beranjak hendak memukulnya. Begitu Jake berbalik terlihat sesosok pria berbaju putih menghampiri Jake.
“ Jake, apa kau tahu apa yang terjadi jika kau berlari ke ujung sana tanpa berhenti?” tanya pria itu. Dia masih berada tidak jauh dari tangga.
“ Tentu aku akan jatuh, siapa kau? Beraninya datang bertanya padaku!” bentak Jake.
“ Ya, kau akan jatuh dan mati jika melewati batas yang telah diberikan,” ujar pria itu.
“ Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, pergi!” usir Jake kemudian berbalik membelakangi pria itu.
Hening sejenak, tak terdengar suara apapun. Jake berbalik berniat mengusir pria yang dikiranya masih berada di belakangnya. Tapi begitu dilihat pria itu telah pergi. Jake memutuskan untuk turun dan kembali ke kelasnya.
Beberapa langkah Jake berjalan. Ia memejamkan mata sejenak dan mulai berfikir tentang apa yang dikatakan pria tadi, tapi Jake memutuskan untuk tidak menghiraukannya.
Saat Jake membuka matanya, langit sore berubah menjadi malam, bulan purnama menampakkan dirinya utuh seakan marah atas apa yang telah diperbuat Jake.
Bulu kuduk Jake berdiri. Ia mulai merasa aneh. Dengan cepat ia berlari menuruni tangga. Tapi Jake tak kunjung melihat ujung tangga. ia terus berlari ketakutan.
Sambil berlari ia renungkan apa yang dikatakan pria tadi. Terlihat wajah mantan kekasih yang pernah dibunuhnya, namanya Karin. Wanita itu terlihat begitu membenci Jake. Dengan penuh dendam Karin menikam tubuh Jake.
Ia tak langsung menikam jantungnya. Karin memulai dari sayatan diwajah Jake, menusuk dan mencabut bola matanya. Jake terlihat begitu kesakitan.
Sejenak ia merenungkan perbuatannya. Ia sadar apa arti dari semua yang dikatakan pria yang ditemuinya. Bahwa perbuatannya adalah kesalahan besar. Ia memperbudak temannya, melukai orang lain, bahkan membunuh pacarnya sendiri.
Ia merasa bersalah akan semua yang telah dilakukannya. Kini Jake akan benar-benar tejatuh dan mati karena telah melampaui batas.
“ Maafkan aku, Karin...” kata terakhir Jake sebelum Karin menikam jantungnya.
Dan untuk yang terakhir kalinya Jake menatap wajah mantan kekasih yang sebenarnya masih mencintainya. Karin memotong bagian tubuh Jake hingga terpisah satu sama lain.
Esoknya, potongan tubuh Jake ditemukan di beberapa tempat di sekolah. Anehnya, kepala Jake tak ditemukan dimanapun. Sekolahpun ditutup untuk beberapa waktu.
Kini, setiap sore Jake dan Karin menggentayangi murid di sekolah. Jake bergentayangan tanpa kepala mengitari sekolah setiap jam pulang. Dan Karin bergentayangan menghantui murid-murid sambil membawa kepala Jake. Itu mungkin karena Karin sebenarnya masih mencintai Jake.
Tak seorangpun yang mengetahui alasannya. Yang jelas Karin dan Jake masih bersarang di sekolah untuk membalaskan dendam siswa kepada orang yang telah melampaui batas.

--End--

Minggu, 14 Oktober 2012

Mitos Horror Jepang

1 Misteri Boneka Okiku Yg terus tumbuh Rambutnya
Seorang peneliti jepang mengungkapkan bahwa dari hasil uji forensik rambut yang ditumbuhkan boneka ini sama persis dengan rambut pada anak usia 10 tahun. Nama Okiku ini diambil dari seorang anak yang sedang bermain dengan boneka dengan ukuran tinggi 40 sentimeter, berpakaian kimono dengan mata hitam seperti manik-manik dan rambut yang lebat. Boneka Okiku telah ada di kuil Mannenji di kota Iwamizawa Prefektur Hokkaido) sejak tahun 1938.
Awalnya boneka ini dibeli tahun 1918 oleh seorang pemuda bernama Eikichi Suzuki di sapporo, Di sana ia melihat sebuah boneka cantik Jepang dengan Kimono. Boneka ini dibeli Eikichi untuk adiknya yang berumur 2 tahun yang bernama Okiku, anak ini sangat menyenangi boneka ini dan memainkannya setiap hari.
Tapi sayang, Okiku meninggal tak lama setelah itu karena demam. Kemudian pada saat pemakamannya, Keluarga ingin memasukkan boneka ke dalam peti mati-nya tapi entah mengapa mereka lupa. Keluarga gadis tersebut kemudian menempatkan boneka itu di altar rumah tangga dan berdoa untuk setiap hari dalam rangka memperingati Okiku.
Beberapa waktu kemudian, mereka melihat rambut mulai tumbuh.Menurut cerita ini merupakan roh dari gadis itu yang berlindung di dalam boneka itu.
Tahun 1938 keluarga Suzuki pindah ke shakalin, boneka okiku akhirnya dititipkan di kuil Mannenji di Hokkaido. Menurut pendeta di kuil itu, boneka tradisional jepang selalu berambut pendek, dia juga membenarkan kalau rambut boneka okiku terus memanjang, walaupun dipotong terus secara berkala, tapi rambutnya tumbuh terus. Menurut kuil, boneka tradisional awalnya memiliki rambut dipotong pendek, tapi seiring waktu terus bertambah panjang sekitar 25 sentimeter, hingga ke lutut boneka.Meskipun rambut boneka ini dipotong secara berkala , namun menurut cerita rambut tersebut tumbuh lagi.
Cerita ini telah menginspirasi berbagai macam film-film horor jepang populer salah satunya adalah film Haunted School.

2. Kochisake Onna
Legenda ini dikatakan berasal dari seorang perempuan muda bernama Kuchisake Onna yang hidup ratusan tahun yang lalu sebagai istri atau selir dari seorang samurai. Perempuan ini mempunyai wajah yang sangat cantik, karena itu sang samurai berkata tidak akan ada lagi wanita lain yang akan dicintainya.

Tapi rupanya cinta bertepuk sebelah tangan dan perempuan muda tersebut mengkhianati sang samurai dengan berselingkuh. Ketika rahasia gelapnya diketahui, sang samurai tentu merasa sangat cemburu dan langsung naik darah
Mata hatinya menjadi gelap dan akal sehatnya sirna. Dia langsung mencabut pedangnya dan membelah celah mulut sang perempuan dari telinga kanan ke telinga kiri. Dia lalu berkata, "Siapa yang akan berpikir kalau kamu cantik sekarang?!"

Mulut Kuchisake Onna menganga terbuka lebar, tapi tidak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya. Yang ada hanya darah mengalir deras membasahi kimononya. Matanya melotot dan berlinang air mata menandakan bahwa dia sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat. Tapi tetap tidak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya.

Dibiarkan begitu saja oleh sang samurai selama berjam-jam lamanya, sampai akhirnya dia meninggal dunia. Karena matinya penasaran, arwahnya masih bergentayangan untuk terus mencari sang samurai dan menuntut balas dendam.

Julukannya adalah setan bermulut celah.
Singkat cerita, legenda ini diteruskan turun-temurun sampai sekarang. Mitos yang ada sekarang adalah mitos yang menyatakan bahwa seorang wanita menjelajah di malam hari dengan wajah tertutup oleh masker bedah.

Ketika ia menemukan seorang laki-laki, dia malu-malu akan bertanya, "Apakah aku cantik?" ("Watashi kirei?").

Jika orang itu menjawab "Ya," maka ia akan melepas topeng dan berkata, "Bagaimana kalau sekarang?" ("Kore demo?"). Pada titik ini, jika korban menjawab "Tidak," dia akan membunuh mereka atau memotong mulut mereka menyerupai miliknya dengan gunting atau pisau.

Tapi jika korban mengatakan dia tetap cantik untuk kedua kalinya (setelah sang perempuan membuka maskernya), ia mengikuti korban sampai ke rumah dan membunuh mereka di ambang pintu tempat tinggal mereka.Singkat cerita, legenda ini diteruskan turun-temurun sampai sekarang. Mitos yang ada sekarang adalah mitos yang menyatakan bahwa seorang wanita menjelajah di malam hari dengan wajah tertutup oleh masker bedah.

Ketika ia menemukan seorang laki-laki, dia malu-malu akan bertanya, "Apakah aku cantik?" ("Watashi kirei?").

Jika orang itu menjawab "Ya," maka ia akan melepas topeng dan berkata, "Bagaimana kalau sekarang?" ("Kore demo?"). Pada titik ini, jika korban menjawab "Tidak," dia akan membunuh mereka atau memotong mulut mereka menyerupai miliknya dengan gunting atau pisau.

Tapi jika korban mengatakan dia tetap cantik untuk kedua kalinya (setelah sang perempuan membuka maskernya), ia mengikuti korban sampai ke rumah dan membunuh mereka di ambang pintu tempat tinggal mereka.


3.Yuki Onna (Hantu wanita salju)

Seorang wanita salju bergaun perak yg hidup di gunung yg suka membunuh pemuda yg tertarik kepadanya
suatu hari, seorang pemuda yg bernama Mokishi turun gunung untuk kembali ke desanyapada misim dingin yang bersalju. di perjalanan, ia bertemu dengan seorang wanita cantik berbaju perak yg terduduk di tengah hamparan salju. gadis itu mengatakan bahwa kakinya terkilir, dan meminta tolong kepada Mokishi untuk mengantarnya pulang.

karena kasihan melihat wajah memelas gadis itu, Mokishi bersedia mengantarnya. ketika Mokishi menanyakan rumah, wanita itu hanya menunjuk ke arah hutan yang lebat dan gelap di depan mereka. mokishi menyuruh gadis itu naik ke keranjang yang digendongnya dan mulai berjalan menuju rumah gadis itu.

perjalanan menembus hutan itu amat panjang dan menguras energi Mokishi. kaki2nya nyaris tidak kuat lagi menahan dingin dan lelah. kelelahan itu adalah tujuan sang gadis, yg selalu menyerang mangsanya pada saat mereka sudah tidak mampu berjalan lagi.

di sela2 perjalanan itu, Mokishi bertanya kepada si gadis apakah mereka tidak salah jalan. si gadis menjawab tidak. Mokishi merasa adanya keanehan pada si gadis, tapi ia memutuskan untuk meneruskan perjalanan sebelum malam semakin larut. ia bertanya lagi apakah si gadis merasa lapar? haus? lelah? apakah keranjangnya terlalu sempit? kemudian ia berkata, membesarkan hati gadis itu agar bersabar melanjutkan sampai akhir perjalanan. si gadis hanya menjawab ya, dg suara yg makin lama makin lemah, dan akhirnya hilang sama sekali.

Mokishi yg heran karena pertanyaannya tidak dijawab menengok ke arah keranjangnya untuk memastikan bahwa si gadis baik2 saja dan mendapati bahwa si gadis tidak ada. keranjangnya hanya berisi bongkahan salju besar yang terbungkus gaun berwarna perak. si gadis salju yg dingin dan kejam mencair karena kehangatan hati Mokishi.
'--'

Kamis, 04 Oktober 2012

Sword Art Online

konbanwa minna~ *malam disini, pada kesempatan kali ini gw bakal bahas tentang anime lagi, judulnya Sword Art Online, pertama gw kira ini judul game ternyata anime XD
langsung saja, ini dia....

Sinopsis

Mustahil melarikan diri sebelum game diselesaikan; 'Game Over' sama artinya dengan 'kematian'. Tanpa mengetahui 'Kebenaran' dari MMO (Massively Multiplayer Online) generasi selanjutnya , 'Sword Art Online(SAO)', sekitar sepuluh ribu orang masuk bersamaan, membuka tirai game 'Kematian' yang kejam ini. Bermain sendirian dalam SAO, sang karakter utama Kirito dengan segera menerima 'kebenaran' dari MMO ini. Dan di dalam dunia game tersebut, sebuah kastil raksasa yang melayang bernama 'Aincrad', dia membedakan dirinya sebagai solo player. Bertujuan untuk menyelesaikan game tersebut dengan mencapai lantai teratas, Kirito dengan penuh risiko bermain sendirian. Karena dipaksa oleh seorang pendekar wanita yang ahli menggunakan 'Rapier' bernama Asuna, akhirnya Kirito bekerja sama dengannya. Pertemuan itu membawa kesempatan untuk menarik keluar takdir Kirito.
Novel legendaris yang jumlah pembuka website pribadinya lebih dari 6.5 juta.

Jumat, 14 September 2012

The God Particle, Higgs-boson

 Pengumuman penemuan partikel yang konsisten dengan Higgs Boson atau sering disebut-sebut sebagai partikel Tuhan pada Rabu (4/7/2012) disambut kegembiraan banyak pihak.

Para ilmuwan, tak terkecuali Stephen Hawking, memberi ucapan selamat kepada Peter Higgs, ilmuwan Inggris yang merumuskan keberadaan Higgs Boson. Sementara itu, media internasional memberitakan penemuan ini besar-besaran, mengulasnya dari berbagai sisi.

Tapi di antara keramaian ucapan selamat dan pemberitaan, tersisa banyak orang yang belum mengetahui apa sebenarnya Partikel Tuhan. Pemberitaan Partikel Tuhan malah membuat dahi mengernyit.

Suharyo Sumowidagdo, ilmuwan Indonesia yang turut serta dalam perburuan Partikel Tuhan di Large Hadron Collider (LHC) Organisasi Eropa untuk Penelitian Nuklir (CERN) mengurai beberapa hal mendasar tentang penemuan Partikel Tuhan tersebut.

Berikut uraian Suharyo